Senin, 28 November 2016

halusinasi

Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah, namun karena diriku yang terlalu baik aku menuruti perintah guru untuk pindah ke belakang.
Aku tidak tahu hal apa yang membuatku berteman dekat dengan orang yang bernama Thee, gak banyak ngomong tapi kalau diajak ngomong seru juga. Aku belum tahu aku mau menjadi apa, tapi aku sangat tertarik dengan film. Aku adalah anak yang cenderung penyendiri karena dalam pikiranku aku serasa memiliki banyak teman menurutku seperti halusinasi suara, akan tetapi aku tak mempedulikannya. Soal pelajaran aku sangat menyukai pelajaran Matematika dan fisika sampai aku ngotot pindah jurusan ips ke ipa karena senangnya aku dengan pelajaran ini, tak jarang juga aku mengajari matematika seperti pada waktu itu.
“Do, ajarin gua dong bagian logaritma halaman 110 pelatihan 5”. ucap anak yang berbadan tinggi bernama Queen.
“Oi, bagian itu udah pernah gua bahas nih, kalo bagian logaritma ini kenapa tiba tiba hasilnya bisa jadi begini begitu, sebenarnya gampang lu harus inget dasar tentang pelajaran logaritma, misalkan begini Qu 5 log 1000-5 log 25 hasilnya adalah 40 karena dalam logaritma operasi pengurangan berubah menjadi pembagian, perkalian berubah menjadi tambah dan banyak lagi, kasus di atas bisa menjadi 40 karena 5 log 1000 dibagi 25 karena sama sama log 5 bisa langsung dibagikan jadi hasilnya 40, ngerti kan?”. Tanyaku kurang ragu tapi aku yakin dia ngerti.
“Oiyaya, ngerti gua makasih do”.
“Oke sama-sama”.
Setelah itu lama kelamaan aku menjadi anak yang aktif di kelas, dan mendapati ranking 5, namun sifat yang suka menyendiri ini menyulitkanku di kemudian hari karena mereka sudah lebih dekat, mereka mendirikan kubunya masing-masing kemampuanku juga jadi semakin diragukan. Bertambah pula halusinasiku semakin membengkak seperti digigit semut dan membuat diriku jatuh dalam kelamnya dunia kebodohan betapa tidak, siang itu Michael teman sekelasku mengajakku makan siang namun seperti ada yang bilang “Gak usah ajak dia, dia itu benc*ng aneh, gak gaul lagi ya gak bro?”. “Iya tuh mic, gak usah diajak udah…!”. Tak tahu benar atau tidak, rasanya seperti benar benar mereka mengatakannya hatiku penuh tergores penuh luka serasa seperti hendak mati. Kata-kata yang terucap penuh rasa perih, tak disangka teman sekelasku mengatakan hal tersebut. Aku tidak bisa membuat apapun lagi aku mau mati saja membalut duka ini bersamaku, namun apa daya aku juga sadar semua ini tak bisa menjadi solusi. Aku harus bangkit… berjuang membuktikannya aku bukan seperti itu…, Tapi semua telah terlambat ketika ku tersadar aku sudah tak sama, ragaku telah terpisah dan denyut jantungku melemah ternyata aku telah koma 2 minggu, dari sana tampak seorang makhluk yang berbeda ternyata ia Malaikat maut.
“kasihan sekali dirimu hanyut dalam kebodohan ini, sekarang aku telah datang menjemput dan kau pulang dengan melanggar janjimu, asalkan kau tahu itu semua hanyalah halusinasimu. Sesungguhnya setan telah berhasil menggodamu sekarang kau hanya bisa terpaku menunggu pengampunan tuhan sembari di neraka tapi sebelum itu aku membiarkanmu melihat kenyataan yang ada…” suara yang diucapkan oleh malaikat maut itu bagai petir yang menggelegarkanku
“Tidak… tidak… tidak mungkin aku mati, apa yang terjadi kenapa aku bisa begini, kenapa aku bisa menjadi seperti ini… Arghhh…”
Aku hanya bisa menangis melihat diriku disana yang semakin lama semakin memutih bagaikan cat tembok, bahkan ibuku disana menangis sejadinya. Kemudian jasadku dibawa ke rumah banyak yang datang termasuk teman sekelasku, aku jadi penasaran bagaimana reaksi semua orang setelah surat yang kutulis yang berisikan kejadian waktu itu isinya seingatku adalah
“Aku adalah seorang anak yang suka menyendiri hidupku juga tak begitu hidup, banyak orang yang berteman denganku tapi ujung-ujungnya malah menjadi seperti musuh, entah. Apa yang terjadi semua serasa gelap, siang itu menjelaskannya selama ini aku memang bukan berhalusinasi tapi memang nyata, Alpha dan March yang mengatakannya langsung aku sangat stress dengan itu aku mau pergi saja, untuk ibu jangan terlalu sedih kak Kara dan kak Pittya masih ada, tentunya mereka sangat sayang sama ibu maafkan aku tak bisa terlalu lama bersamamu, dan untuk temanku terima kasih telah menjelaskan kepadaku siapa aku di mata kalian kata kata itu sangat jelas untuk menjelaskan semua ini, aku memanglah benc*ng di mata kalian tapi walau bagaimanapun aku berjuang semua tetap sama aku tak bisa mengubahnya kalian tetap menganggap seperti itu selamat tinggal semuanya…”. Itulah Surat yang kuberikan ketika ku telah dimakamkan ibuku memberikan surat itu kepada March dan Alpha yang kemarin mengatakan itu berserta teman-temannya di depan teman sekelasku.
“Aku tidak pernah mengatakan Aldo seperti itu bu, mungkin dia halusinasi atau salah dengar, kemarin itu Michael mengajaknya namun kami hanya jalan terus tak mempedulikan itu tapi jujur bu saya tidak melakukannya” ucap March yang sontak bingung
“Kemarin itu Aldo terlihat mencatat pelajaran kimia yang ada di papan, March mengajaknya tapi dia tidak menjawab seperti asyik sedang mencatat pelajaran itu bu, jadi kami pun juga tak mempedulikannya, namun anehnya kenapa bisa seperti ini, aku jadi semakin bingung…!” sambung alpha
“Jadi kalo gak ada yang bilang gitu kok bisa dia bunuh diri…?” tanya Kak Kara marah-marah
“Mungkin ini yang namanya halusinasi suara bu, kak. Dimana korban dapat mendengar suara suara aneh, berkebalikan dari kenyataan, suara seperti manusia bahkan korban bisa seperti ini akhirnya. Saya bisa tahu karena ibu saya adalah psikolog jadi saya sedikit mengerti karena saya juga tertarik dengan ilmu seperti itu”. Jawab anak peringkat 1 bernama Claudia.
“Mungkin saja, terkadang Aldo sering bilang apa bu, iya kak ada apa?, dan juga yang paling sering siapa yang kakak bilang benc*ng. kami sangat heran mengapa itu bisa terjadi padahal kami diam saja, ya sudah mungkin ini jalan tuhan” jawab Kak Pittya.
Aku sangat sedih mendengar itu semua. Akhirnya aku disini hanyut dalam kelamnya kebodohan terpanggang api panas yang membakar sampai ke tulang menunggu dan berharap akan pengampunan tiba, namun dosa ini terlampau besar membuatku mati untuk berulang kali…

mimpi ku untuk indonesia

Namaku siti nurfaiza, biasanya dipanggil faiz. Aku salah satu murid di smk cendika bangsa dan menggambil jurusan administrasi perkantoran (apk). Sebenernya sih ini bukan pertama kalinya aku nulis jadi gak terlalu susahlah buat bikin cerita. Awalnya sih aku gak terlalu suka sama nulis soalnya ngebosenin, tapi karena ditantang sama temen waktu smp jadi seneng nulis sampai sekarang. Dan sekarang aku mulai nyoba buat ngirim cerpen buatan aku ke salah satu media tulis di internet. Mungkin untuk sekarang cuma satu yang diterima dan sudah banyak banget cerpenku yang gak diterima. Hal itu sebenernya bikin aku pesimis untuk kembali nulis, tapi kalau gak terus dilatih gimana bisa jadi penulis yang hebat. Heeheehee…
Aku berasal dari keluarga sederhana, dari mana orangtuaku membiayaiku untuk melanjutkan sekolah ke smk?, sungguh, itu pemikiran klasik. Pikiranku masih pendek sekali waktu itu. Tapi, niat dan pikiran itu terbantahkan oleh semangat orangtuaku untuk terus melanjutkan sekolah. Di sela waktu belajar, saat itu masih kelas ix. Ibu pernah berkata
“kalian itu harus melanjutkan seolah, jangan sampai tidak melanjutkan sekolah. Kalian jangan memikirkan masalah biaya terlebih dahulu, sekarang itu yang terpenting adalah masa depan kalian, jangan pernah memikirkn masalah biaya karena itu urusan bapak sama ibu.” kata ibuku kepadaku dan adikku
“kak, kenapa sih kita harus sekolah padahal kan enakan juga main daripada belajar?” tanya adikku saat ibuku pergi
“sekolah itu penting dan kita ini lebih beruntung daripada anak yang ada di luar sana mereka tidak bisa sekolah karena orangtua mereka gak bisa biayai mereka untuk sekolah sedangakan kita masih bisa sekolah” jawabku
“terus kenapa orangtua mereka gak marahin mereka kalau mereka gak sekolah, kenapa gak kayak ibu yang marahin kita untuk terus bersekolah?”
“bukanya gak marahin dek, tapi orangtua mereka gak punya uang untuk biayai anaknya sokolah”
“merajut impian, menepis rintangan, menggapai cita-cita, ilmu bagaikan api yang harus dinyalakan bukan bejana yang menunggu untuk diisi” ini kata kata yang selalu memotivasi diriku untuk terus bersekolah. Setiap hari kita pasti mempunyai impian, cita-cita dan harapan. Harapan yang tersembunyi dari relung hati dan jiwa kita akan menimbulkan dorongan untuk melakukan sesuatu perubahan apa yang kita pikirkan, apa yang kita inginkan dan apa yang akan kita putuskan hari ini lakukanlah sekarang juga. Jangan menunggu esok hari karena apa yang ada dipikiran kita besok akan berbeda. Karena sebuah pemikiran, kemauan dan keputusan akan menentukan hasil maksimal hari ini juga. Siapapun anda bisa sukses sekarang juga! Karena kalau tidak sekarang, kapan lagi?. Heheheee belajar bijak buat motifasi diri sendiri karena kalau bukan kita sendiri siapa lagi.
Semua orang pasti punya mimpi dan cita cita kelak kalau besok akan jadi apa?. Aku sendiri belum bisa menentukan kelak akan jadi apa karena yang ada di fikiranku sekarang adalah sekolah menuntut ilmu, mencari pelajaran dan terus memotivasi diriku sendiri “aku yakin kalau aku pasti akan sukses dan membuat orangtuaku bangga” itu sih yang selalu aku lakukan.
“kak, bantuin aku buat ngerjain pr?” kata adikku saat masuk kamarku
“pr apa?” tanyaku
“cita cita”
“kok tanya kakak kan itu cita cita kamu bukan kakak”
“aku gak tau apa cita citaku?. Emang cita cita kakak apa?”
“emmmm… kakak pengen banggain ibu sama bapak dan kalau kakak udah jadi orang sukses nanti kakak akan bantuin anak yang kurang mampu untuk melanjutkan sekolah. karena menurut kakak pendidikan itu penting banget. Alam indonesia ini kaya banget kalau gak ada yang bisa manfaatin kita bakal terus diperbudak sama bangsa lain. Kalau kita terus diperbudak kapan negara kita bisa maju” jawabku
“emang cita cita itu apa sih kak?” tanya adikku polos karena masih kecil
“cita-cita adalah suatu impian dan harapan seseorang akan masa depannya, bagi sebagian orang cita-cita itu adalah tujuan hidup dan bagi sebagian yang lain cita-cita itu hanyalah mimpi belaka.” jawabku “tapi kita gak boleh menganggap kalau cita cita itu hanya sebuah mimpi karena cita-cita adalah sebuah impian yang dapat membakar semangat untuk terus melangkah maju dengan langakah yang jelas dan mantap dalam kehidupan ini sehingga ia menjadi sebuah akselerator pengembangan diri namun bagi yang menganggap cita-cita sebagai mimpi maka ia adalah sebuah impian belaka tanpa api yang dapat membakar motivasi untuk melangkah maju.” lanjutku
“oooo… kalau gitu aku pengen jadi guru biar anak anak gak mampu bisa sekolah geratis” kata adikku semangat
“pinter… tapi kamu harus belajar yang semangat biar cita cita kamu tercapai. Oke!!!” kataku sambil mengacak ngacak rambut adikku
“oke… siap kak!!!” jawab adikku dengan semangat
Semua orang yang hidup pastinya punya keinginan, impian dan juga harapan, dan salah satunya adalah bahagia di masa depan. Melalui impian dan harapan inilah kemudian mereka membangun tujuan hidup mereka, dari mulai bekerja keras, menuntut ilmu melalui pendidikan yang tinggi, mencari pekerjaan dengan penghasilan cukup serta melakoni berbagai jenis usaha dan kegiatan yang dianggap memiliki impian adalah keharusan, sebab impian merupakan jalan penentu kemana kita akan melangkah. Ibarat berjalan atau mengendarai kendaraan, maka terlebih dulu kita harus tahu kemana arah tujuan kita. Begitu pula dengan hidup, kita harus memiliki tujuan yang jelas agar semua upaya dan jerih payah kerja keras kita selama ini tidak sia-sia. Selain harus memiliki impian, kita harus berani mewujudkan impian tersebut melalui tindakan, kerja keras, berusaha dan gigih serta sabar dalam menghadapi apapun yang menjadi cobaan impian kita. Namun, jika kita hanya bermimpi saja, maka tetap saja impian kita hanya akan sebatas mimpi dan tidak akan benar-benar terjadi. Selain itu, dengan memiliki impian, harapan, tujuan yang jelas, maka hal tersebut bisa menjadi pacuan kita dalam menjalani hidup memiliki impian adalah keharusan, sebab impian merupakan jalan penentu kemana kita akan melangkah. Ibarat berjalan atau mengendarai kendaraan, maka terlebih dulu kita harus tahu kemana arah tujuan kita. Begitu pula dengan hidup, kita harus memiliki tujuan yang jelas agar semua upaya dan jerih payah kerja keras kita selama ini tidak sia-sia.

mencari cinta saat mpls

Senang sekali rasanya bisa naik kelas dengan hasil yang cukup memuaskan. Aku naik ke kelas sembilan sebagai peringkat pertama di kelas 8B. Aku berhasil mengalahkan saingan beratku yang bernama Putry. Ia sangat baik dan cantik. Aku sudah lama suka dengannya, tapi dia seolah-olah tidak pernah menganggapku. Lama-kelamaan aku pun mulai membuka hatiku kepada wanita lain. Aku memutuskan untuk melupakannya, apalagi di kelas sembilan aku tidak akan sekelas lagi dengan Putry. Jadi aku bisa melupakannya dengan mudah.
Kebetulan satu minggu lagi di sekolahku akan diadakan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), dan aku sebagai anggota dari OSIS-MPK ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Ini adalah kesempatan untuk aku mencari wanita cantik kelas tujuh yang baru. Aku akan menjadi kakak pembimbing calon murid baru itu. Walaupun Putry juga bagian dari anggota OSIS-MPK, aku tidak peduli karena aku sudah tidak mencintainya lagi.
Walaupun teman-temanku yang lain masih menikmati libur sekolah akhir semester, tapi aku senang bisa bangun pagi dan datang ke sekolah untuk membimbing adik kelas baruku. Karena aku dan rekan-rekan OSIS-MPK lainnya akan diberi nilai tambahan dan juga sebagai kenang-kenangan bisa berkenalan lebih dahulu dengan adik kelas yang baru. Apalagi kita sebagai anggota OSIS-MPK bisa sambil mengerjai mereka, tapi dengan candaan yang biasa-biasa saja tidak berlebihan.
Kembali lagi pada tujuan awal, di tahun terakhir aku membimbing para adik kelas baru, aku ingin mencari sang pujaan hati yang mungkin bisa menggantikan posisi Putry di hati yang penuh duka ini. Aku harus tampil tegas dan berwibawa seperti biasanya agar aku bisa dengan mudah memikat para adik kelasku khusunya wanita.
Hari pertama MPLS, aku ditempatkan di kelas gugus Harimau atau yang nantinya akan dijadikan kelas 7C. Ketika aku memasuki ruangan di gugus Harimau itu aku sama sekali tidak mendapatkan wanita yang cantik, semuanya biasa-biasa saja tidak ada yang spesial. Aku pikir aku harus mencari adik kelas di gugus yang lainnya.
Ternyata bukan aku saja yang berniat untuk mendapatkan wanita cantik dalam kegiatan MPLS ini, temanku yang bernama Iyus pun sedang mencari wanita pujaan hatinya setelah di kelas 8 gagal dalam hubungan percintaannya. Wah, aku punya saingan. Dan saingain itu adalah temanku sendiri. Tapi tak apa-apa kita akan bersaing secara sehat.
Pembina OSIS-MPK menyuruh kami untuk merekrut dua orang siswa yang saat di Sekolah Dasarnya sering menjadi petugas upacara. Sebagai pimpinan di gugus Harimau, aku pun bertanya kepada adik kelas baruku siapa saja di antara mereka yang sering menjadi petugas upacara saat masih di SD. Dan ternyata ada banyak yang mengangkat tangannya. Aku pun kebingungan. Untuk itu, aku dan rekan-rekanku menyeleksi mereka untuk ditampilkan saat upacara pembukaan nanti. Dan alhasil aku menemuka dua orang terbaik. Satu laki-laki dan satu wanita.
Para petugas upacara yang terpilih dari masing-masing gugus pun di giring ke lapangan upacara untuk berlatih. Mereka akan dipilih sebagai pemimpin upacara, pengibar bendera, pembacaan UUD 1945, dan sebagainya. Dan ini merupakan kesempatanku untuk melihat adik kelas yang berparas cantik.
Ketika aku sedang mengajarkan siswa bimbinganku membaca ikrar pelajar, aku pun sempat menoleh ke arah kanan. Di situ ada para siswa baru dari gugus lain yang berlatih bernyanyi untuk paduan suara. Dan aku pun melihat siapa yang menjadi dirijennya. Ternyata dia seorang wanita yang tinggi, putih, dan cantik. Dan dia pun sempat melirik ke arahku. Aku terpesona melihat keelokan wajahnya. Akhirnya aku menemukan juga wanita itu, aku harus berknalan dengannya agar temanku yang bernama Iyus itu tidak mengambilnya dariku. Tapi aku jangan terburu-buru, aku harus menyelesaikan tugasku dulu untuk mengajarkan siswa bimbinganku membaca ikrar pelajar.
Upacara pembukaan pun dimulai. Aku sebagai kakak pembimbing bertugas untuk merapikan barisan pelajar yang tidak terpilih menjadi petugas upacara. Dan sesekali aku melihat ke arah paduan suara yang di situ ada wanita yang menjadi incaranku. Tak lama kemudian Iyus menepak dadaku. Aku terkejut, aku kira ada adik kelas yang tidak sopan.
Iyus berkata kepadaku bahwa dia melihat gadis yang cantik. Dan temanku itu menunjuk ke arah paduan suara. Sial, ternyata dia juga sudah mengetahuinya. Dan yang paling mengejutkan lagi karena temanku itu mengetahui nama gadis tersebut. Ternyata gadis cantik itu adik kelas dari wakil ketua OSIS saat SD. Dan wakil ketua OSIS itu memberitahukan nama gadis itu kepada temanku, Iyus. Nama gadis itu adalah Dila. Aku pun jujur kepada Iyus bahwa aku juga menyukai gadis itu. Tapi dia terlihat seperti tenang-tenang saja. Nampaknya dia ingin bersaing secara sehat.
Ketika upacara berlangsung, aku pun bertanya kepada rekan OSISku di gugus Harimau tentang gadis yang menjadi dirijen di paduan suara itu. Karena rekanku itu satu SD dengan wakil ketua OSIS, dan pasti dia juga tahu tentang wanita bernama Dila itu. Saat aku menanyakan tentang gadis cantik itu, rekanku malah tertawa. Apa menjadi bingung. Setelah dia berhenti tertawa, dia pun menceritakan kepadaku bahwa wanita bernama Dila itu adalah saudaranya sendiri. Apa? Saudara? Coba saja aku menanyakan kepada dia dari awal, pasti aku lebih dulu tau tentang Dila daripada si Iyus. Dila dan rekanku yang bernama Tia itu rumahnya berdekatan dan mempunyai hubungan saudara.
Aku mendapatkan kesempatan emas untuk mencari tahu tentang Dila lewat Tia. Aku belum berani jika harus bertanya langsung kepada Dila. Aku pun mencoba untuk meminta nomor handphone Dila kepada Tia.
Sekarang saatnya para anggota OSIS-MPK memperkenalkan diri di hadapan semua calon murid baru. Aku pun dengan percaya diri memperkenalkan diri di hadapan mereka terutama di hadapan wanita bernama Dila itu. Aku harap dia mendengarkanku dan mengetahui namaku. Setelah itu kegiatan MPLS pun dilanjutkan dengan materi dari guru.
Setelah kegiatan MPLS akan selesai, aku pun meminta nomor handphone Dila kepada rekanku, Tia. Tia pun memberikannya kepadaku. Aku mencoba mengirim pesan kepada Dila. Tak ku sangka Dila langsung memberi balasan dari pesanku itu. Aku pun berusaha untuk memperkenalkan diri kepadanya. Dan Dila pun mengetahui siapa aku karena tadi siang telah melihatku memperkenalkan diri di hadapan semua calon murid baru. Aku sangat senang menerima balasan itu. Ternyata Dila memperhatikanku saat aku di depan. Dan Dila mengatakan kepadaku bahwa Tia saudaranya sempat bercerita tentang aku yang menanyakan tentang Dila. Ah sial, Tia jahil sekali kepadaku. Tapi tak apalah, sepertinya Dila pun terlihat senang kepadaku. Saat itu, aku pun mulai saling berkirim pesan dengan Dila. Aku sering memberitahu Dila apa-apa yang harus dibawa di kegiatan MPLS berikutnya. Apalagi dengan kata-kata makanan yang suilit dimengerti aku pasti langsung memberitahukannya.
Lambat laun Iyus pun mengetahui bahwa aku sudah mendapatkan nomor handphone Dila. Tetapi dia tidak marah kepadaku. Ketika aku meminta maaf kepada Iyus soal ini, Iyus hanya tertawa terbahak-bahak. Ternyata Iyus sama sekali tidak menaruh rasa kepada Dila. Iyus sudah mendapatkan adik kelas lainnya sebelum Dila yang saat ini sedang ia incar. Aku pikir Iyus juga menyukai Dila sepertiku. Ternyata tidak, ia lebih menyukai adik kelas cantik yang lainnya. Dan wanita itu ada di gugusnya. Wah beruntung juga Iyus bisa menemukan wanita pujaan hatinya di gugus yang dipimpinnya.
Aku pun semakin merasa senang dan mempunyai kesempatan besar untuk memiliki Dila. Dan sepertinya Dila pun menaruh rasa kepadaku saat pandangan pertama ketika sedang berlatih paduan suara minggu lalu. Sejak saat itu pula aku dan Dila sering berkomunikasi berkat nomor handphone yang diberikan Tia rekanku.

suka duka tetap bersama

Hari ini aku menjadi siswa di kelas 8 SMP. Aku senang sekali karena bisa naik ke kelas selanjutnya, mungkin berbeda nasib dengan mereka disana yang kurang beruntung. Di kelas 8 ini aku satu kelas dengan sahabatku, Hasyim. Sementara sahabatku yang lainnya, Iyus berbeda kelas dengan kami. Tetapi walaupun begitu kami tetap menjadi sahabat yang akan selalu setia bersama, suka maupun duka.
Ketika kelas 7, aku dan kedua sahabatku itu memilih Pramuka sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Namun, karena di Pramuka kurang seru dan pesertanya juga sedikit dan tidak gokil karena keseringan mereka serius, jadi kami pun memutuskan untuk keluar dari keanggotaan Pramuka di kelas 8 ini. Kami pun sementara tidak mempunyai satu ekskul pun sama sekali setelah keluar dari Pramuka.
Kami bertiga bingung harus memilih ekskul apa di kelas 8 ini. Karena jika kami tidak mempunyai satu ekskul pun, kami terancam tidak akan naik kelas tahun depan. Aku mengusulkan kepada Hasyim dan Iyus untuk mengikuti ekskul Paduan Suara. Namun Hasyim dan Iyus menolaknya karena mereka tidak begitu menyukai dengan musik, apalagi mereka sama sekali tidak bisa menyanyi.
Setelah usulku ditolak oleh mereka, giliran Hasyim yang memberi usul. Hasyim mengajak aku dan Iyus untuk mengikuti ekskul Seni Teater. Sebenarnya aku sempat setuju karena aku suka dengan seni, termasuk Teater. Tetapi Iyus sama sekali tidak tertarik akan hal itu, dia sama sekali tidak bisa bersandiwara di depan banyak orang. Dan sekarang Iyus sendiri yang memberikan usul kepadaku dan Hasyim. Iyus sangat tertarik sekali untuk masuk ke Paskibra, dan itu merupakan usul yang sangat buruk sekaligus berani. Bagaimana tidak, di Paskibra menuntut semua anggotanya harus disiplin, berani, bertanggung jawab, dan tidak neko-neko. Sementara kami semua tidak mempunyai kriteria tersebut, apalagi pembinanya itu yang membuat kami tidak mau masuk Paskibra sejak kelas 7. Pembina di Paskibra sangatlah garang, mukanya seram. Walaupun tubuhnya tak sebesar tentara, tapi dia ditakuti banyak orang di sekolah. Tetapi jika aku melihat-lihat, pembina Paskibra dengan anggotanya terlihat seperti akrab sekali, bahkan sering becanda.
Iyus tetap memaksaku dan Hasyim untuk bergabung ke Paskibra, karena ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk menikmati masa-masa akhir sekolah sebelum tahun depan kami harus mempersiapkan untuk Ujian Nasional. Dan dengan masuk Paskibra ini kita akan bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya. Aku dan Hasyim sempat berpikir-pikir terlebih dahulu, kalau tidak benar-benar dalam mengambil keputusan ini kami semua bisa hancur karena pilihan yang salah. Setelah lama berpikir, aku dan Hasyim pun setuju dengan usul Iyus untuk bergabung dengan ekskul Paskibra yang terkenal dengan pembinanya yang galak itu namun banyak sekali yang tertarik tak terkecuali kami sekarang. Kami yakin dengan pilihan ini, menjadi anggota Paskibra. Iyus pun senang dengan keputusan ini. Sebenarnya aku masih ragu, namun aku harus yakin karena dengan masuk Paskibra aku bisa lebih disiplin dalam menjalani hidup sehari-hari, karena anggota Paskibra harus selalu ada di sekolah setiap pagi sebelum siswa yang lainnya datang (melakukan Apel pagi).
Sebelum kami di terima di keanggotaan Paskibra, kami terlebih dahulu diberi beberapa pertanyaan oleh pembina Paskibra. Apa tujuan kami masuk Paskibra, kenapa tidak memilih ekskul lain, apakah kami yakin dengan pilihan kami, apakah kami sungguh-sungguh atau terpaksa, dan pertanyaan lainnya yang membuat kami sangat gugup dan gemetaran dalam menjawab semua pertanyaan tersebut. Setelah menjawab berbagai pertanyaan dari pembina Paskibra, kami pun akhirnya resmi di terima sebagai anggota Paskibra. Iyus sangat senang, namun aku dan Hasyim merasa bingung harus senang atau sedih. Dan mulai saat itu aku harus memenuhi kriteria sebagai anggota Paskibra yang terkenal tegas dan disiplin.
Di Paskibra, kami diberi jadwal piket untuk membersihkan ruangan perpustakaan dan ruang Paskibra. Kami mempunyai dua ruang, karena pembina Paskibra kami juga merupakan staf dari perpustakaan sekolah. Dan ruang perpustakaan sering menjadi ruang kami untuk berkumpul karena ruang Paskibra sangat kecil dan kurang terurus karena banyak sekali barang-barang sekolah yang ada di ruang Paskibra, belum ada renovasi untuk ruang Paskibra itu. Kami berkumpul setiap hari Senin dan Sabtu, namun jika ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan kami sering kumpul di hari-hari yang tidak ditentukan sebelumnya alias mendadak. Mau tidak mau kami harus mentaatinya, karena jika tidak akan ada konsekuensinya. Untuk anggota Paskibra yang tidak kumpul 3 hari (tidak berturut-turut) karena alasan yang tidak jelas, dia akan langsung dikeluarkan dari keanggotaan Paskibra tanpa ada kesempatan untuk kembali lagi masuk ke Paskibra, dan itu menjadi ancaman kami, terutama aku, Hasyim dan Iyus.
Setiap kumpul, kami harus membawa nasi karena kami akan berlatih keras. Mau hujan atau terik matahari, kami akan terus berlatih. Kami tidak boleh makan menggunakan sendok, jika ada yang terlihat makan menggunakan sendok kami akan kena hukuman yang berat. Dan jika ada anggota yang tidak membawa nasi, dia harus meminta makanan ke semua anggota Paskibra untuk dia makan sendiri. Dan jika ada anggota yang selesai makan dan pada saat itu juga masih banyak anggota yang belum selesai, kami harus membantu mereka menghabiskan makanannya. Sungguh ketat dan berat sekali kami menjalankannya terkhususkan untuk anggota baru seperti kami ini.
Lama kelamaan aku dan Hasyim semakin betah berada di keanggotaan Paskibra ini terlebih banyak sekali wanita cantiknya yang membuat kami semakin betah, namun berbeda sekali dengan Iyus yang terlihat seperti bosan. Padahal Iyus sendiri yang mengajak aku dan Hasyim untuk masuk ke Paskibra. Aku dan Hasyim pun mencoba untuk bertanya kepada Iyus mengapa akhir-akhir ini ia sering mengeluh di Paskibra padahal sebentar lagi akan ada penyeleksian anggota untuk dikirimkan ke kabupaten untuk mengikuti lomba.
Aku dan Hasyim terkejut mendengar penjelasan dari Iyus. Aku tidak menyangka Iyus tidak betah di Paskibra dan ingin segera keluar dari Paskibra, namun dia belum berani melakukannya karena takut dengan pembina Paskibra. Aku dan Hasyim pun menasehati Iyus untuk tidak melakukan hal ini, karena jika keluar Iyus terancam tidak akan naik kelas tahun depan dan tidak akan ada pula ekskul yang berbaik hati untuk menerima anggota baru di pertengahan semester ini. Iyus sendiri yang megajak aku dan Hasyim untuk masuk Paskibra, aku dan Hasyim pun semakin bisa menerima Paskibra dalam hidup kami. Namun Iyus sendiri juga yang ingin keluar dari Paskibra. Aneh sekali menurutku. Iyus beralasan bahwa dia sangat lelah sekali berada di Paskibra karena harus selalu pulang sore daripada murid-murid lainnya, dan terlebih hari Minggu pun anggota Paskibra harus tetap kumpul untuk latihan demi penyeleksian menuju lomba di kabupaten. Iyus pun berkata kepada kami bahwa dia sering dimarahi oleh ibunya karena pulang terlalu sore hampir menjelang maghrib karena rumahnya paling jauh dari aku dan Hasyim. Iyus mengaku kepada aku dan Hasyim bahwa dirinya sangat menyesal masuk Paskibra. Aku dan Hasyim sangat kecewa dengan penjelasan Iyus, dan mulai saat itu pula kami dan Iyus tidak berkomunikasi terlebih dahulu. Di Paskibra, aku dan Hasyim sering berjauhan dengan Iyus.
Ketika pengumuman seleksi untuk lomba di kabupaten, Iyus tidak hadir karena beralasan sakit gigi kepada pembina. Aku dan Hasyim tahu kalau Iyus sedang berbohong. Aku sama sekali tidak menyangka nama tiga anggota Paskibra baru terplilih untuk mengikuti lomba di kabupaten. Ketiga anggota itu tak lain dan tak bukan adalah aku, Hasyim, dan Iyus. Padahal masih banyak yang lebih baik daripada kami. Aku harus lebih giat berlatih untuk menampilkan yang terbaik di perlombaan nanti. Sejak saat itu kami diharuskan untuk berlatih ekstra dibandingkan anggota lain yang tidak terpilih.
Latihan pertama sejak pengumuman itu, Iyus kembali tidak hadir dengan alasan yang sama. Nekat sekali dia berbohong kepada pembina, aku yakin lambat laun pembina akan mengetahui kebohongan Iyus. Saat latihan, barisan tengah pun dikosongkan satu, karena posisi itu milik Iyus yang berpura-pura sakit.
Dan benar dugaanku, pembina mengetahui kebohongan Iyus. Ia sangat murka, kepercayaan yang diberikannya kepada Iyus sangat disia-siakan oleh Iyus. Tanpa basa-basi pembina kami pun langsung mengeluarkan Iyus dengan tidak terhormat, dan pembina Paskibra menyebarkan surat kepada para pembina ekskul yang lain untuk tidak memasukkan Iyus ke ekskul mereka masing-masing. Posisi Iyus di Paskibra untuk lomba digantikan oleh adik kelas kami yang sebelumnya tidak terpilih. Kini Iyus tidak mempunyai satu ekskul pun, dan dia terancam tidak naik kelas tahun depan. Aku dan Hasyim sebenarnya sangat menyangkan hal ini.
Waktu pun semakin berlalu, aku gagal mempersembahkan piala untuk Paskibra sekolahku. Namun pembina kami sangat berterimakasih kepada kami atas perjuangan dan semangat yang diperlihatkan saat lomba di kabupaten. Menurutnya, kami bisa lebih baik lagi di perlombaan selanjutnya bulan mendatang. Aku dan Hasyim kecewa dengan hasil ini. Padahal kami sudah yakin bisa membawa pulang piala walaupun hanya piala juara 3. Namun nasib berkata lain. Sejak saat itu, aku semakin tidak semangat di Paskibra. Aku dan Hasyim sering bolos. Dan kami bolos sudah lebih dari 3 hari. Nampaknya sekretaris Paskibra belum melaporkan hal ini kepada pembina, karena aku yakin sekretaris cantik itu tidak rela jika aku dan Hasyim dikeluarkan dari Paskibra. Aku tahu dia sangat menyukai aku sejak aku pertama kali masuk ke Paskibra. Namun pembina Paskibra bernama Krisna itu sangatlah jeli, dia tahu aku dan Hasyim telah bolos lebih dari tiga hari. Namun dia seolah-olah masih memberikan kami kesempatan untuk berubah, namun kami tidak menggubrisnya. Dan suatu saat pembina memanggil kami. Dia berkata baik-baik, bertanya kepada kami mengapa kami begini. Katanya, kami sangat berpotensi sekali di Paskibra. Dan dia masih memberikan kami kesempatan kedua dalam jangka satu bulan ini untuk kembali bergabung dengannya di Paskibra. Aku sama sekali tidak menyangka dengan kak Krisna, ternyata walaupun di lapangan sangat keras dan kejam ternyata dia baik juga seperti yang aku kira dahulu. Dan yang paling mengejutkan lagi, kak Krisna menyuruh kami untuk menyampaikan hal ini juga kepada Iyus. Kak Krisna tidak ingin menjadikan Iyus sebagai korban kekejamannya.
Aku tidak bisa tidur semalaman setelah kak Krisna berkata seperti itu kepada kami. Aku bingung harus bagaimana. Ini kesempatan untuk bisa naik kelas tahun depan, namun jika hati ini sudah tertutup tak akan ada artinya lagi. Meskipun aku tahu ancaman untuk tidak naik kelas karena tidak mempunyai ekskul hanya omong kosong belaka, namun siapa tahu omongan itu memang benar-benar terjadi.
Kini aku dan kedua sahabatku itu seolah-olah tidak mengenal satu sama lain ketika di sekolah. Kami istirahat masing-masing tidak seperti dahulu lagi. Aku memilih untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Begitu pula dengan Hasyim dan Iyus.
Besok adalah hari terakhir kami untuk memutuskan apakah tetap pada pendirian kami untuk keluar dari Paskibra atau kembali menjadi bagian dari anggota Paskibra sekolah yang sangat dihormati. Aku berpikir keras, aku memohon kepada Tuhan untuk meminta petunjuk dariNya agar aku bisa tenang. Aku pun bermimpi ketika tidur bahwa aku dan kedua sahabatku harus kembali masuk ke Paskibra, jika tidak kami akan menyesal. Aku pun terbangun dengan keringat yang mengguyur seluruh badanku.
Hari terakhir pun tiba, ini saatnya keputusan. Jam sudah menunjukkan pukul 12.28, tinggal dua menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Tak lama kemudian bel itu pun benar-benar berbunyi, jantungku berdebar kencang. Aku sangat tertekan, masa depanku di sekolah ini ditentukan hari ini juga. Aku harus melakukannya, aku yakin aku harus kembali ke paskibra dan tentunya dengan kedua sahabatku. Karena Hasyim satu kelas denganku, aku pun mencoba menghampirinya ketika ia memakai sepatunya hendak pulang. Aku berkata kepadanya kalau kita harus kembali ke Paskibra. Namun dia malah menjawab kalau dia sudah mempunyai tujuan sekolah baru kalau-kalau dia tidak naik kelas tahun depan. Namun aku katakan kepadanya kalau hal itu sangatlah buruk, kita adalah sahabat dan selamanya kita akan selalu bersama. Tak lama kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku gagal membujuknya.
Tinggal Iyus yang belum aku temui. Kebetulan Iyus sedang kerja kelompok di kelasnya membuat mading. Aku pun masuk ke dalam kelas tersebut dan mendekati Iyus. Aku berkata kepadanya seperti apa yang aku katakan kepada Hasyim tadi. Dan jawaban dia membuatku semakin kacau. Dia tidak ingin kembali ke Paskibra, dia juga yakin kalau dikeluarkan dari sekolah hanyalah omong kosong. Aku tidak boleh seperti mereka, aku harus melakukannya walaupun hanya sendiri.
Aku segera menuju ke ruang perpustakaan karena kak Krisna pasti sedang ada disana karena ini bukan waktunya untuk kumpul Paskibra. Ketika aku hendak masuk ke perpustakaan, Hasyim dan Iyus berteriak kepadaku. Mereka pun segera menghampiriku, aku sama sekali tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Dan tanpa kusangka, mereka berubah pikiran. Mereka memutuskan untuk kembali masuk ke Paskibra. Dan kami pun segera masuk ke dalam ruang perpustakaan. Kak Krisna sudah tidak ada, kata pengurus yang lain kak Krisna sudah pulang dari tadi. Kami pun terkapar lemas dan begitu kecewa. Kami terlambat, kami tidak bisa memanfaatkan kesempatan kedua itu. Kami pun tergeletak di luar ruang perpustakaan dengan keramik putih yang dingin itu.
Tak lama kemudian, kami mendengar langkah seseorang. Kami pun segera terbangun dari alas keramik itu. Dan ternyata seseorang itu adalah kak Krisna. Ternyata kak Krisna belum pulang, ia pergi dulu ke kamar mandi untuk mandi karena badannya bau dan berkeringat. Kak Krisna pun mengampiri kami dan bertanya kepada kami mengapa ada disini. Kami pun menjelaskan semuanya kepada kak Krisna. Kak Krisna tersenyum lebar, kak Krisna menerima kami kembali untuk masuk ke Paskibra. Ternyata kami belumlah terlambat, kata kak Krisna Paskibra sedang membutuhkan anggota untuk persiapan lomba bulan depan. Dan Paskibra akan mengirimkan tiga wakilnya yang merupakan hampir semua anggota Paskibra dilibatkan. Dan menurutnya kami sangat pantas dan berpotensi untuk ada di posisi itu untuk lomba. Kami sangat senang dengan pernyataan kak Krisna, kami seperti bermimpi padahal tidak. Pembina Paskibra yang begitu kejam ternyata memang benar-benar baik. Kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami harus memberikan yang terbaik bagi Paskibra dan sekolah. Kami tidak ingin mengulangi kesalahan kami dahulu. Dan sejak saat itu aku, Hasyim, Dan Iyus kembali bersama lagi sebagai sahabat sejati. Dan selamanya pula kami akan tetap selalu bersama sebagai sahabat, suka maupun duka.

terbawa hembusan angin

Di sudut kamar kududuk termenung, menatap indahnya langit malam ditemanin pancaran cahaya bulan yang hangat.
“Akankah sang pujaan hati menghampiriku, akankah sang pangeran cinta itu ada. Hmmmm” aku berdetak dalam hati sambil terus memandang bulan.
“Kringgg… kring… kringg.” Bunyi alarm menandakan pukul 07.00 pagi.
“Astaga… Gue telat… AaaaaAaa” gue teriak dan langsung ngacir ke kamar mandi. Gak nyangka gue, hari pertama bisa telat. Haduhhh…
“Sasya… Turun makan… Bunda udah masak nii” jeritan bunda dari ruang makan melengking ke seluruh penjuru rumah.
“Iyaa bundaa, ni sasya turun kok ndaa” aku pun bergegas menuruni tangga untuk sarapan bersama bunda.
Namaku sasya, aku tinggal berdua dengan bunda, ayah meninggal karena kecelakaan pesawat. Bunda salah satu pemilik saham di hotel bintang lima di kota tempat aku tinggal. Kami hidup bahagia, karena kami selalu merasa ada ayah di sisi kami.
Ini pertama kalinya aku masuk di sekolah SMA favorit sejakarta. Dan tepat hari ini adalah hari pertama aku MOS.
Aku berjalan menelusuri koridor sekolah, sambil mengkhayal, akan ada pangeran cinta datang kepadaku di SMA ini. Terbawa romansa aku pun senyum-senyum sendiri. tiba-tiba ada tangan yang hinggap di bahuku.
“Jeddderr… Hahahah. Lo mau kemana sasya… Kita kan disuruh ngumpul di lapangan, ayok ikut gue” “Ehh… Tenyata lo ta.. Gue kirain setan nemplok, hahahha” aku terbahak melirik seta yang cemberut, dan aku pun langsung berlari meninggalkan seta yang masih merengut manyun itu.
“Semua baris… Jaga jarak! jangan dekat-dekat! hai kamu yang ujung, rapikan barisanmu!” dengan tegas ketua osis membariskan kami para siswa baru.
“Sumpah syaa… Ganteng banget, pangeran sekolah ni syaa” seta terus menatap wajah kak ray si ketua osis.
“Iyaa sih ta, tapi galak ih, males banget liatnya” kuacuhkan ketua osis yang sok galak itu. Apaan sih, ganteng sih iyaa, tapi kalo songong gitu siapa yang berani dekatin. Ehh… Tapi ya dehh… Sumpah wajahnya bening banget. Etdahh… Kenapa gue harus mikirin kakak yang galak itu. Hahhaha batinku merepet sendiri karena hatiku yang berdetak ketika pertama kali melihat mata biru kak ray.
Sudah pukul 5 sore, waktunya pulang mandi istirahat. Sedari tadi aku hanya mengahabiskan waktu di kamar, bunda belum pulang. Katanya sih ada meeting.
Hmmm… Diingat-ingat kak ray ganteng banget, gayanya yang cool, stylenya yang menawan, wahhh… Cewek mana yang gak tergila-gila sama Rayhan Pratama Suryatmodjo. Anak dari pemegang saham terbesar di perusahaan terkaya di Jakarta.
“Aduhh… sakit”
“Setaa… Apaan sih lo, sakit tau. Nyebelin deh, btw… Lu kok tiba-tiba di rumah gue” cerocosku ke muka seta. Dia pikir enak kali digetok pake buku, ni kepala kali bukannya batu, dasar seta, suka-sukanya saja ngegetok cewek cakep gini. Huftsss… Gue ke Pedean sendiri deh.
“Elu sih, pintu gerbang kagak dikonci, pintu rumah terbuka, maksud lo apa! Mau nyuruh maling masuk? Untung gue yang masuk, kalo setan maling gimana!!!” Seta balas merepeti aku yang tak berhenti-henti.
Yaa salah aku sih yang memang lupa nutup pintu, mungkin karena aku kecapean kali ya. Gimana gak capek, disuruh nyapu halaman sekolah yang begitu gedenya, terus disuruh keliling sekolah ngumpulin tanda tangan dan surat botol, yaa capek lah.
Ngomong-ngomong surat botol, ini mah hari keberuntungan gue, siapa sangka kak Ray yang songong itu pandai buat puisi dan surat yang super duper puitis. Aku kan jadi baper… Hihi aku dapat surat botol yang buatan kak Ray. Beruntung banget aku. Suratnya wangi, persis wanginya ketika ia lewat semriwing di hadapanku.
“Heh… Melamun lagi, Dasarr ihh teledorrr” seta mengagetkanku dari lamunanku yang indah itu. Ahhahaha. Aku hanya membalas seta dengan senyuman lebar dan mempesona.
Aku dan seta bersahabat dari SMP. Dan kini kami pun masuk ke SMA yang sama, rumah seta tak jauh dari rumahku. Hanya beda beberapa rumah saja.
“Ehh… Sya lu ingat gak sama kak ray? Kakak cakep itu. Hahahha” dengan wajah berseri-seri. Mungkin dia lagi ingat wajah kak ray, ketika ia nyanyi di lapangan tadi. Lagunya si justin bieber itu loh love your self itu membuat semua mata menuju wajah kak Ray.
“Yaa ingat lah, mungkin kak Ray bakalan jadi fansku kali yaa. Hahahaha”
“Songong lu, elu tadi bilang gak suka sama kak ray, nah sekarang! Dasar plin plan” dia menyerocos sendiri. Aku mah gak peduli, yang penting surat kak Ray di tanganku. Aaaaa. Merona-merona deh ni pipi.
Bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran berakhir. Aku bergegas mengemasi barang-barangku.
“Syaa… Gue duluan ya, si papa ngajakin ke bandara nih, jemput mama. Daaa sasyaa” sambil berlari ke luar. Hmmm… Pulang sendiri deh. Ahhh… Ngeselin deh si seta ini. Aku pun langsung bergegas ke luar.
“Syaaa… Pulang bareng gue yuk, kan rumah kita searah, mau yaa” sumpah demi apa!!! Itu kak ray? Iyaa kak ray ngajakin pulang bareng, Oh my god, mimpi aku semalam. Aaaaa… Mau banget deh pulang sama princenya sekolah, yuhuuu. Duduudududu.
“Hai syaa… Kok melamun, hmmm… Melamun berarti tandanya iya. Ya udah yuk naik” langsung menarik tanganku. Wahh… Seperti mimpi dehh.
“Kok tumben jalan sendiri, temen kamu kemana?”
“Emmm… Anu kak.. Emm ituu”
“Emm… emm mulu nih. Kemana?”
“Jemput maminya di bandara” kaget aku menjawab dengan keras. Ohhh tuhan gak bisa kontrol diri gue di samping prince ini.
“Ohhh… Gitu toh, yauda kita makan dulu yuk” tanpa jawabanku, kak ray langsung memarkirkan motornya di parkiran kafe yang sangat mewah. Takjub banget, sampek berhenti berdetak ni jantung gue.
Berawal dari pulang bareng kini kami menjadi dekat, bahkan sangat dekat. Sampai akhirnya aku merasa kak Ray adalah pangeran cinta yang ditakdirkan buat aku. Setiap di dekatnya, aku hanya merasa hangat dan sangat nyaman, aku ingin terus berada di sampingnya dan berharap beralih ke pelukannya.
Beberapa bulan sudah kami dekat, sampai akhirnya kak ray ngajakin gue ke kafe tempat pertama kali kami memandang rasa.
“Syaaa… Kita memang baru kenal, tapi perasaan ini sangat besar buatmu syaa. Syaa di hari istimewa ini aku mau kita menjadi pasangan untuk selamanya. Syaaa aku sangat mencintaimu, di bawah saksian bulan dan bintang di malam ini aku ingin mengatakan isi sebenarnya hatiku. Syaa… Would you be my girl, forever?” Dengan meraih tanganku dan memegang setangkai mawar kak ray mengatakan isi hatinya, dan ini membuat aku sempat berhenti berdetak. Ya allah, ini bukan mimpi. Jadikanlah ini kisah terindah di hidupku.
“Yaa… Aku akan menjadi wanitamu setelah ibumu kak. Aku juga sangat mencintaimu kak” aku jawab dengan tegas, aku sangat bahagia, dan aku gak akan pernah ngelupain hadirnya pangeran cinta yang kutunggu selama ini. Dan kami pun berpelukan dengan hangatnya, kak Ray mengecup keningku dengan sangat lembut dan mesra, aku melayang seperti layaknya seorang putri kerajaan yang sangat beruntung.
Sekitar 6 bulan kami dekat, sampai pada waktunya kak Ray mengungkapkan isi hatinya, tepat di hari ulang tahunku di bulan Januari. Dan tepat di bulan dan di hari itu juga, aku kehilangan kak Ray pangeran yang ku impikan selama ini.
Yaa… Setelah dia mengungkapkan isi hatinya, kami bergegas pergi ke pantai, di sana aku melihat dengan jelas kak Ray berlari menghampiriku ingin memberiku surprise ke duanya, tapi semuanya berakhir ketika kak Ray menyeberang jalan menuju ke tempatku, disaat itu lah tubuh kak ray terbang dan mendarat tepat di bawah kakiku, dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya. Truk yang besar itu telah menabrak pangeranku. Aku terdiam termanggu tak tau ingin berkata apa. Aku membisu dan memeluk kak Ray. Tak ingin kulepas tubuhnya, tubuh harum pangeran cintaku kini telah pergi, aku marah pada semua, kenapa tuhan tidak adil kepadaku, ia mengambil seluruh hatiku. Aku tak sanggup kehilangan cintaku. Yaa… Pangeran yang selama ini kudambakan kini hilang terbawa hembusan angin dan tak akan mungkin kembali. Dan kini hidupku kosong tak ada warna dan tak ada cinta dari pangeranku.

moranica

Nama aku Ali (Alli Nur Magribi). Aku punya temen namanya Andzar, dia tuh baik dan orangnya kalem. Suatu hari dia ngajak aku buat pergi ke toko buku gramedia yang ada di pvj. Kami memang sering ke pvj tapi biasanya kami pergi bertiga bersama Rifqi. Rifqi tuh orangnya baik dia sering traktir aku main ke warnet. Tapi kali ini Rifqi gak bisa ikut bersama kami ke gramedia karena dia dan temennya akan bermain futsal. Dan gak aneh juga kami sering ke pvj karena rumah Andzar ada di sukajadi.
Sesampainya di pvj aku dan Andzar pergi menuju gramedia, lalu pada saat ada di tengah jalan menuju gramedia ada cewek cantik yang melihat aku sambil tersenyum, melihat itu aku tiba-tiba balas senyuman dia dengan refleks. wkwkwwww setelah aku lihat seragamnya ternyata dia baru pulang sekolah dan masih memakai seragam sekolahnya, sebenarnya aku pengen tau namanya tapi dia memakai jaket warna ungu yang resleting jaketnya kebuka jadi nametagnya tidak terlihat. Tapi aku melihat sabuk yang dikenakannya berlambangkan SMPN 29 Bandung.
Setelah kami akan masuk ke gramedia ternyata dia juga mengikuti kami masuk ke gramedia. Pada saat aku baca buku yang ada disana ternyata cewek yang tadi sedang merhatiin aku. Sebenarnya sih aku senang, jarang jarangnya ada cewek cantik yang merhatiin aku. hahahah
Setelah aku dan Andzar puas baca buku, kami berdua lalu pergi meninggalkan gramedia untuk pergi pulang ke rumahnya Andzar. Pada saat kami di tengah jalan menuju rumah Andzar, aku cerita semuanya tentang cewek tadi yang selalu merhatiin aku. Tapi Andzar malah bilang “jangan keGRan kamu teh li.” kata Andzar
“siapa yang ke GRan, buktinya dia senyum-senyum gitu sama aku” balas aku
“ya sudahlah lupakan ayo cepet bentar lagi nyampe nih.” Kata Andzar
Setibanya di depan rumah ternyata di depan pintu sudah ada Rifqi dan Rafly yang sedang nunggu kami untuk datang.
“eh kok kalian ada di sini sih bukannya tadi kalian mau maen futsal yah?” kata Andzar kaget
“iyah nih tadinya juga mau maen futsal tapi males nih bosen mending kami maen aja ke rumah kamu Zar.” Jawab Rifqi
“iyah Zar” sahut Rafly
“ya udah hayu cepet masuk” kata Andzar
Setelah kami semua sudah masuk ke rumahnya Andzar aku langsung pinjam laptopnya dan mencari cewek tersebut di facebook. Lalu aku lihat anggota grup SMPN 29 Bandung di facebook dan mencari muka cewek tersebut di grup tersebut. Tapi usaha kerja keras selama kurang lebih satu jam tersebut tidak membuahkan hasil apapun.
“ah kamu mah li ngapain cari cewek itu da gak akan ketemu atuh, anak 29 tuh bukan satu dua tapi ada ribuan apalagi alumninya juga ada di grup itu kan” kata Rifqi
“iya juga sih ngapain cari cewek itu da pasti gak akan ketemu” balas aku
“kalau jodoh mah gak akan kemana kok li” kata Rafly
Lalu setelah kami berbincang bincang cukup lama tidak terasa sudah jam 5 sore.
“eh pulang yuk udah jam lima nih” kata Rafly
“hayu li pulang, jangan pikirin cewek itu lagi lah, cewek yang cantik tuh banyak bukan dia doang” kata Rifqi
“ya udah sih hayu pulang, siapa juga yang mikirin dia” bales gue sambil muka cemberut
“ya udah atuh hayu pulang udah sore nih!” kata Rafly
Kami bertiga pamitan sambil mengucapkan salam kepada Andzar. “Zar kami pulang dulu yah assalammualikum”
Aku pulang bareng sama Rifqi menggunakan angkot sarijadi ciroyom, Rafly pulang menggunakan angkot caheum ledeng.
Setelah aku sampai rumah, aku tegang karena aku main ke rumah temen tanpa izin ke orangtua aku.
“dari mana kamu li?” kata mama
“dari rumah Andzar mah yang di sukajadi” balas aku sambil buka sepatu
“oh gitu ya udah lain kali kalau mau main ke rumah temen lagi, sms mamah yah” balas mama
“iyah mah” kata aku
“cepet makan terus pergi ngaji” kata mama
“iyah” kata gue sambil ngambil piring buat makan.
Setelah makan dan bersiap-siap pergi mengaji ke masjid, lalu temen aku yang bernama farhan nyamper buat pergi ke masjid bareng. Dia sekolah di 29 kebetulan satu sekolah sama cewek yang tadi ketemu di pvj.
“Far tadi yah aku kan ketemu cewek yah di pvj cantik loh… terus dia senyum gitu sama aku, kayaknya mah dia teh smp 29 deh soalnya sabuknya sama persis kayak kamu.” Kata aku sambil menjelaskan panjang lebar
“wah, kok bisa sih emang kenapa kok bisa senyum sama kamu sih, mungkin dia suka kali.” Balas Farhan
“ahh kamu mah baru juga pertama kali ketemu kok bisa suka sih” jawab aku
“yah bisa lah itu tuh namanya cinta pada pandangan pertama” kata Farhan
“ya udah cepet masuk udah mau adzan magrib nih” Kata aku
Setelah kami tiba di masjid lalu kami melakukan sholat magrib berjamaah dan disambung dengan mengaji.
Setahun kemudian
Seperti biasa aku dan Rifqi selalu pulang bareng untuk melaksanakan sholat dzuhur di masjid At-taqwa.
“qi aku selalu kepikiran sama cewek yang ada di pvj itu qi.” kata aku, curhat
“ya udah kalau kamu penasaran kita pergi nunggu di kpad semoga aja dia pulang lewat sini.” Kata Rifqi
“ya udah emang iya sih kebanyakan anak 29 pulang lewat kpad ”
Lalu kami pergi menuju kpad untuk cari cewek cantik itu
“Qi itu ada dua anak cewek, mungkin itu kali qi soalnya dilihat dari potongan rambutnya sih kayaknya mah itu” kata aku
“ya udah cepet kamu pergi ke depan terus lihat muka ceweknya!” kata Rifqi
Lalu aku pergi ke depan dan melihat muka cewek tersebut, ternyata benar bahwa cewek tersebut adalah cewek yang selama setahun ini gue cari-cari.
“hey boleh kenalan?” kata aku
Dia hanya diam saja dan jalan terus ke depan, tapi setelah aku berusaha lalu aku Tanya lagi
“hay boleh kenalan gak?” kata aku
“Tanya aja ke yang itu!” kata dia sambil menunjuk temen yang tadi jalan bersamanya
“hey boleh tau gak nama yang tadi itu siapa?” tanyaku kepada temannya yang ditunjuknya itu
“Moranica Rizki” jawab dia
“oh iya makasih yah” kataku sambil berlari menuju Rifqi
“udah li? Siapa namanya?” Tanya Rifqi
“Moranica Rizki” jawab aku yang sedang ceria
Setelah aku tau nama dia lalu aku cari namanya di facebook dan ternyata pada saat aku baru mengetik “mora” lalu ada foto dia di paling atas. Setelah aku buka profilnya ternyata aku tuh sudah berteman dengan dia di facebook.
“HAH, kok aku udah temenan sama dia sih… 146 teman yang sama lagi, gak salah lagi, mungkin temen sd aku kenal sama dia lagi” kataku dalam hati
Setelah aku tahu nama fbnya lalu aku kirim chat sama dia, dan hingga saat ini aku sering chatingan sama Moranica Rizki…
Mungkin hanya segitu cerita pendek yang bisa saya share, ini kisah nyata loh.. maaf kalau ceritanya agak alay, soalnya aku baru belajar nulis…

cinta itu

Manusia, apa kau ingat siapa dirimu?
Apa kau ingat tugas yang diberikan padamu di dunia ini?
Apa kau ingat apa tujuan hidupmu?
Manusia, kau nodai dunia dengan minimnya akhlakmu
Kau lukai dunia dengan keserakahanmu
Kau hancurkan dunia dengan ambisimu
Seperti inikah yang disebut makhluk paling mulia dan sempurna?
Aku terpana oleh setiap kata yang keluar dari mulutnya. Terdengar sarkastik, namun pesannya mampu menembus hati. Tak ada yang pernah menyangka cewek sepertinya mampu menyampaikan kata penuh makna di hadapan seluruh penghuni kelas.
Dia adalah Riska, teman sekelasku. Sudah dua tahun aku berada di kelas yang sama dengannya, dan sudah dua tahun juga aku tak kunjung memiliki kesempatan untuk dekat dengannya. Riska itu siswi yang paling cuek dan pendiam di kelas. Namun dibalik sifat cuek dan diamnya itu, dia menyembunyikan banyak fakta menarik. Yang pertama, ternyata dia adalah seorang fangirl. Kedua, dia juga seorang Otaku dan Fujoshi. Ketiga, dia siswi yang cukup cerdas. Keempat, dia memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Dia mampu merangkai kata-kata sehingga memiliki makna dan pesan yang sangat berarti, dan dia mampu menyampaikannya hingga terdengar indah di telinga pendengarnya.
“Manusia, dunia itu ibarat permainan. Dimana para pemainnya berlomba agar menempati level teratas, hanya demi harta dan tahta. Namun dunia tidak bisa semudah itu kita miliki, karena hanya ada dua pilihan untuk menghadapinya. Yaitu membunuh, atau mati. Terima kasih.”
Seisi kelas terpaku mendengar kata terakhir dari puisi yang Riska bacakan. Tak ada satu pun ucapan selamat atau tepuk tangan untuknya. Aku sendiri ikut kaget mendengar kata-kata janggal itu, kata-kata yang seperti menyerukan peperangan. Tapi entah kenapa aku yakin, ada arti dan makna tertentu dibalik kata-kata tersebut. Aku yakin Riska tidak bermaksud menyerukan hal tidak baik, jadi aku pun berdiri; bertepuk tangan untuk Riska.
“Huuuh, hebat! Riska emang the best!” seruku tanpa mempedulikan pandangan teman-teman yang memandangku dengan penuh tanya. Namun kemudian, semuanya ikut bertepuk tangan untuk Riska, mengikuti seruanku yang membanggakan dirinya. Dan Riska pun kembali ke tempat duduknya.
Aku tertarik padanya, aku menyukainya. Entah sejak kapan, mungkin semenjak aku tahu dia tipe cewek yang tak banyak tingkah tapi menyimpan segudang keistimewaan. Yang jelas, aku tak dapat melepaskan pandanganku darinya.
“Hey, hey! Yang merasa Tim Kreatif, ayo kesini!” Bel istirahat baru saja berbunyi ketika tiba-tiba Deri berteriak di depan kelas. “Ayo cepet, gue mau bagi-bagi job desk, nih.” lanjutnya.
Aku yang merupakan anggota Tim Kreatif untuk Drama Musikal kelas kami pun menghampiri Deri, diikuti oleh teman-teman Tim Kreatif lainnya. Kami duduk membentuk lingkaran di atas lantai di depan kelas, dan aku duduk tepat di seberang Riska berada.
“Oke, gue langsung ngomong aja, ya. Soalnya kalau lama kasian, kita kan belum istirahat,” ucap Deri.
“Ya udah, Der. Gak usah basa-basi, lapar nih.” sahut Ira.
“Iya, bawel.”
Deri membolak-balik kertas yang ada di tangannya, membaca dan mencoba menyampaikan apa yang tertulis di sana. “Jadi gini, teman-teman. Kita kan kebagian tema Kisah Kasih di Sekolah, otomatis Drama yang nanti harus kita pentaskan itu tentang cinta-cinta gitu. Nah, gue mau yang urus naskah dramanya itu Riska. Karena gue yakin Riska bisa, Riska pinter merangkai kata-kata puitis nan dramatis. Lo sanggup kan, Ris?”
Riska mengangguk. “Oke, sanggup.”
“Riska mah pasti sanggup, pasti bilang iya. Riska kan lempeng,” komentar Iqbal, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Riska.
Aku tersenyum melihat ekspresinya. “Enggak, Bal. Riska tuh the best, jadinya dia sanggup lah, karena dia the best.” ucapku kemudian, membuat Riska tersenyum padaku.
“Ssst, Boy.” Deri memanggil namaku.
“Iya, bro?”
“Lo juga bantu Riska ya, nyusun naskah Dramanya.” jawab Deri.
Aku terkejut. “Kok gue?”
Deri mengangguk.
Aku menggaruk dan menatap ke arah Riska, yang memberikan tatapan datarnya padaku. Kemudian aku tersenyum lebar. “Ya udah, gak apa-apa. Selama ada Riska, gue juga sanggup, kok.”
Semuanya tertawa mendengar aku kembali membanggakan Riska, dan Riska ikut tertawa. Aku yakin dia hanya menganggap perkataanku sebagai candaan semata, padahal sebenarnya aku memang tertarik padanya.
Setelah Deri selesai membagikan job desk pada anggota kami, semuanya pun bubar dan berbondong-bondong pergi ke kantin. Sudah tak ada lagi yang dapat menahan rasa lapar yang sedari tadi mengerogoti perut. Termasuk diriku, dan juga Riska.
“Hey, Ris.” Aku mendekati Riska dan mengiringi langkahnya.
“Apaan?” tanyanya.
“Minta pin BBM lo, dong. Kira-kira kita mau mulai nulis naskahnya kapan?”
“Ehm, secepatnya. Nanti janjian aja,” jawabnya sambil memberikan pin BBM-nya padaku.
Aku tersenyum lebar. “Oke.”
“Ck, arrgh!” Riska mengerang untuk kesekian kalinya, sambil terus mengusap dahi dan menatap layar laptopnya. “Duh, Boy… bantuin, dong. Gue bingung nih mau nulis apa lagi.”
Aku ikut menatap layar laptop, membaca setiap kata yang telah Riska tulis di halaman Word. “Gue juga bingun, Ris. Lagi buntu banget, nih. Lo mau nulis narasi lagi?”’ tanyaku.
“Bukan, gue mau nulis dialog antar pemeran utamanya. Udah tinggal beberapa scene lagi padahal.”
“Emang ceritanya mereka lagi ngobrolin apaan?”
Riska menghela nafas. “Jadi gini, gue mau nulis scene dimana si cowok dan cewek pemeran utamanya membicarakan tentang cinta. Ya pokoknya, mereka membicarakan apa sih cinta itu. Dan apa definisi cinta menurut mereka berdua. Nah, menurut lo sendiri cinta itu apa sih, Boy?”
“Menurut gue, ya? Cinta itu.. apa? Hmm.. cinta itu apa, ya?” Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, mencoba mencari jawaban yang tepat.
“Menurut pendapat lo sendiri aja, gak perlu berbelit. Yang penting nanti gue bisa dapet referensi tentang—”
“Cinta itu… kamu.” ucapku yang memotong perkataan Riska.
Riska mengerutkan dahinya. “Boy? Maksudnya apaan?” tanyanya.
“Ya cinta itu… kamu.” Aku kembali mengulang perkataanku, sambil terus menatap lurus; tepat ke arah kedua bola mata Riska.
“Ehm… gue beneran harus nulis itu di naskah?”
“Hah, apa?”
“Gue harus nulis ‘cinta itu kamu’ di naskah Drama kita?” tanyanya lagi.
Aku mengerjapkan mataku, lalu mengangguk dengan pelan. “Iya, boleh.. kalau lo mau.”
“Oh, oke.” Riska kembali menatap layar laptop, tanpa kembali menatapku. Lagi-lagi, dia hanya menganggap perkataanku sebagai candaan.
Aku dan anggota Tim Kreatif lainnya sedang berkumpul di perpustakaan, kembali merapatkan persiapan pementasan Drama Musikal kelas nanti. Kebetulan di jam pelajaran kedua ini Guru Biologi kami tidak masuk, jadi kita memanfaatkan waktu untuk berapat ria di perpustakaan.
Dan disini lah aku, duduk berhadapan dengan Riska tanpa saling berbicara sedikit pun. Sejak tadi yang dia lakukan hanyalah fokus memainkan jari-jarinya di atas keyboard laptop, seperti asik dengan dunianya sendiri.
“Hei, ngobrol, dong.” bisik Deri sambil menyikut lenganku.
“Ck, apaan sih lo.”
“Hei, Ris. Ajak Boy ngobrol, dong. Jangan diem-diem aja, ngomong lah.” ucap Deri, yang mampu membuat Riska berhenti memusatkan dirinya dari naskah Drama yang sedang dia kerjakan. “Ayo, ngobrol. Kasian si Boy, kesepian kalo gak diajak ngobrol.”
Aku menonjok bahu Deri dengan pelan, membuatnya sedikit merintih kesakitan. “Berisik lo, Der. Bisa diem gak, sih?” ancamku kemudian.
“Iya, iya. Gue paham kok, Boy. Lo gak mau gue ganggu, kan? Oke deh, gue sama yang lain mau ke kantin aja.” ucapnya sambil beranjak. “Kalian yang harmonis ya ngerjain naskahnya, haha..” Dengan penuh tawa jahil, Deri mengajak teman-teman lain untuk meninggalkan diriku bersama Riska seorang. Deri memang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi. Riska saja masih terdiam terpaku, sibuk dengan laptopnya. Jadi tak mungkin juga aku meninggalkann Riska sendirian di perpustakaan, sedangkan hari ini aku belum membantunya dalam melanjutkan naskah sama sekali.
Aku menghela nafas. “Ris..” ucapku kemudian, dan Riska pun menatapku.
“Ya, kenapa?” tanyanya.
“Gue mau nanya sesuatu sama lo.” Jawabku dengan ragu.
Riska mengangguk pelan. “Ya, tanya aja.”
“Ehm…” aku menelan ludah. “Kalau yang gue bilang kemaren itu ternyata serius, gimana?”
“Yang kemaren yang mana emangnya?” Dahi Riska berkerut, dirinya belum peka dengan maksud ucapanku.
“Yang waktu lo tanya definisi cinta menurut gue, Ris. Dan gue jawab kalau cinta itu, kamu. Nah, sebenernya jawaban gue itu gak mengarah ke naskah drama kita. Melainkan mengarah ke… kamu.”
Riska terdiam, masih dengan dahi berkerut. “Gue masih gak paham, Boy.”
“Ya cinta itu kamu. Cinta itu kamu… Riska…” jelasku padanya. Aku menatapnya dengan serius, aku ingin menunjukan padanya kalau yang aku katakan bukanlah suatu candaan.
“Kok bisa?” tanyanya.
“Ya karena… aku cinta kamu, Ris. Gue suka sama lo, udah lama banget.”
Riska terkekeh, matanya menatap ke sekitar; seperti memastikan bahwa tak ada orang lain yang mendengar ucapan konyolku barusan. “Lo jangan bercanda, Boy. Gue tau lo gimana, lo kan udah sering banget deket sama cewek. Dan yang terakhir gue tau, lo kan pacaran sama Kak Putri.”
“Siapa bilang gue pacaran sama dia? Cuma sekedar deket, gak sampe pacaran.”
“Ya gak sampe pacaran, tapi kalian deketnya udah kayak orang pacaran, kan. Terus tiba-tiba katanya lo PHP-in dia, bla bla bla… Dan sekarang, lo mau mengincar gue, nih?” Pertanyaan Riska begitu sarkastik, entah kenapa rasanya sakit jika Riska memandangku dengan negatif. Sejahat itukah diriku? Seingatku, aku tak pernah berniat menyakiti siapa pun. Semua terjadi karena ada penyebabnya, dan tak selamanya diriku yang salah.
“Gue serius suka sama lo, Ris. Hubungan gue sama Kak Putri mungkin terlihat begitu di mata lo, tapi lo gak tau apa yang terjadi. Gak selamanya gue yang salah, dan belum tentu juga gue yang jahat, kan. Semua ada penyebabnya, Ris.” Aku kembali meyakinkan Riska. “Lagipula, what the hell about my past. Yang gue tau sekarang, gue suka sama lo. Dan kalau pun lo mau gue berubah demi lo, gue pasti akan memperjuangkan itu.”
Riska tersenyum sinis padaku. “Ya, mungkin gue emang gak tau apa yang terjadi antara lo dan cewek-cewek di masa lalu lo. Dan mungkin aja sih lo bisa berubah, tapi cinta gak semudah itu, Boy. Lo bilang lo suka gue, gak bisa secepat itu lo mengartikan kalau lo cinta gue.”
“Ya terus gimana sih, Ris?”
“Hei… kadar rasa suka sama rasa cinta aja tuh udah beda, Boy…”
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, otakku seperti sedang dibabat habis oleh semua kata-kata Riska. Aku tak menyangka akan sesulit ini untuk meyakinkan seorang Riska. “Duh, Ris. Emang lo gak pernah rasain yang namanya jatuh cinta apa? Coba, nih. Apa definisi cinta menurut lo? Apa?” tanyaku padanya.
“Cinta itu… salah satu dari sekian banyak rintangan yang terdapat di sebuah permainan yang bernama dunia. Cinta sama sulitnya dengan dunia ini, karena cinta ibarat rintangan yang harus dihadapai para pemain saat berada di level yang tinggi. Cinta itu—“
“Ah, Ris!” aku memotong perkataan Riska. “Gue saat ini gak peduli dengan teori puitis nan sarkastik lo itu. Pokoknya gue suka sama lo, Ris. Gue sayang lo, seriusan.” lanjutku yang mulai kehabisan kesabaran.
Riska tak bergeming, dirinya kini ikut menatapku dengan serius. Aku yakin dia terkejut melihat reaksiku. Aku sendiri pun tak mengerti kenapa bisa bersikap seperti ini di hadapannya. Hatiku gemetar, jantungku berdetak kencang, rasanya ingin sekali meluapkan semua perasaanku padanya. Tapi dia tak kunjung mempercayai perasaanku, mungkin itu alasannya.
“Hmm… terus lo mau gue gimana kalau lo suka sama gue?”
Aku kembali menghela nafas. “Lo… harus cari jawaban dari pertanyaan ‘lo mau gak terima perasaan gue, dan jadi pacar gue’. Itu tugas lo yang pertama,” jawabku.
Riska mengangguk. “Oke, kasih gue waktu buat cari jawaban itu. Tapi kalau agak lama gak apa-apa, ya. Lagipula, seiring berjalannya waktu lo juga akan bosan menunggu gue.”
“Liat aja nanti,” ucapku seraya tersenyum sinis padanya. “Kita liat siapa yang kata-katanya terbukti benar.”
Riska mengangguk.
Sudah lebih dari 3 minggu Riska tak kunjung menjawab dan membalas perasaanku. Namun selama ini aku tak pernah berhenti mengejarnya, aku terus menghubunginya setiap hari, sekedar membuatnya ingat kalau aku masih setia menunggunya.
Hari ini adalah hari dimana sekolah kami mengadakan Pentas Seni, itu berarti ini saatnya kelas kami beserta kelas lainnya menampilkan sebuah Drama Musikal yang tengah dilombakan. Aku berdiri di depan panggung, untuk berjaga-jaga kalau peserta sebelum kelas kami sudah selesai tampil. Sedangkan Riska sedang sibuk membantu para pemain untuk mengingat naskah mereka.
Aku memandanginya dari kejauhan. Berharap dirinya tersadar, bahwa aku tak pernah melepaskan pandanganku darinya. Selama apa pun dia membuatku menunggu jawaban darinya, atau seburuk apa pun jawaban itu.
“Makasih ya, Ris.” ujar Tere.
“Iya, sama-sama. Kalian siap-siap, ya. Gue mau nonton kalian di depan panggung.” Setelah selesai berbicara dengan Tere, Riska menatap ke arahku, lalu berjalan menghampiriku. “Sekarang giliran kelas kita yang tampil,” gumamnya.
Aku mengangguk.
Kami berdua memfokuskan pandangan ke arah panggung, melihat teman-teman menampilkan sebuah Drama Musikal romantis ala anak SMA. Aku tak menyangka cewek cuek dan sarkastik seperti Riska dapat menulis naskah seromantis ini, yang saking romantisnya sampai membuatku iri. Kenapa aku tak dapat merasakan momen romantis seperti yang ditulis di naskah? Padahal orang yang kusuka adalah si penulis naskah itu sendiri.
“Kenapa kamu tertarik sama aku?” ucap Tere dengan lantang dari atas panggung, membuat mataku melebar saat menyadari kalau pertunjukan Drama tersebut sudah berada di puncak adegan.
“Kenapa kamu tertarik sama aku?” gumam Riska yang mengulang perkataan Tere.
Aku meliriknya dengan heran. “Hah?” tanyaku.
“Kenapa? Kenapa kamu tertarik sama aku?” Riska balik bertanya padaku.
“Ya karena… aku cinta kamu.” jawabku. Tanpa kami sadari, kami baru saja mengatakan kata yang sama persis dengan apa yang ditulis di dalam naskah Drama.
Riska tersenyum tipis. “Emangnya kamu tau cinta itu apa?”
“Cinta itu… kamu. Karena aku gak bisa mengalihkan pandanganku dari kamu, aku suka setiap tingkah laku kamu, aku gak bisa berhenti ikut tersenyum saat kamu tersenyum. Pokoknya, semuanya selalu tentang kamu.” jawabku sambil tersenyum lebar pada Riska. “Kalau menurut kamu sendiri, cinta itu apa?”
“Ehm… cinta itu kita. Kita bersama, kita saling menjaga, kita saling menghargai, kita saling mengerti, kita saling menyayangi. Lalu kita tertawa, dan kita bahagia.” Riska ikut tersenyum.
“Ris, kayaknya yang lo bilang barusan gak ada di naskah, deh.”
Riska tertawa. “Emang iya.”
“Terus lo ngapain? Bukannya lo lagi ikutin kata-kata yang ada di dialog Drama, ya?”
“Itu bukan naskah Drama, Boy. Itu gak ada hubungannya sama Drama, itu buat lo.”
Aku tak begitu menangkap maksud perkataan Riska. “Apa sih, gue masih gak ngerti sumpah.”
“Itu jawaban dari gue, Boy. Gak usah pura-pura gak ngerti…” Riska menggerutu.
“Cinta itu… kita. Kita bersama, jadi… kita bersama, nih?” gumamku dengan pelan, membuat Riska terkekeh. “Kita… kita bersama, Ris? Kita jadian, Ris? Lo nerima gue, Ris?” tanyaku dengan penuh semangat.
Riska mengangguk.
“Serius? Alhamdulillah…” aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. “Jadi.. cinta itu apa tadi, Ris?”
“Kita…” jawab Riska dengan sedikit malas karena malu melihat tingkah anehku.
“Hahaha.. makasih, Ris. Aku cinta kamu, Ris.”
Semua yang terjadi hari ini tak akan pernah aku lupakan. Walau sempat hampir menyerah, ternyata perjuanganku tak sia-sia. Aku telah memenangkan hati Riska, cewek yang menurutku berbeda dengan cewek lainnya. Mungkin itu terdengar klise, tapi itulah cinta. Cinta itu… kita. Kita bersama. Ya, kita sekarang bersama. Aku, dan juga Riska.

love

Pada suatu hari saat hari pertama mengikuti MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru) tahun 2015/2016 di SMA N 4 SINGARAJA. Saya mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan sangat gembira karena diterimanya di suatu SMA terfavorit di suatu kabupaten buleleng.
Setelah berakhirnya MOPDB waktunya pembagian kelas oleh kakak-kakak senior OSIS, satu persatu nama siswa dipanggil sesuai dengan jurusan yang diminatinya, setelah lama menunggu nama saya dipanggil akhirnya waktunya pembagian kelas IPS, yaitu kelas yang saya minati dari waktu smp saya sangat begitu suka dengan pelajaran sejarah, sosiologi dan geografi, satu persatu nama dipanggil siswa yang berada di kelas X IPS 2. Dan nama saya pun dipanggil “Dita Kusuma” oleh kakak-kakak senior dan saya pun maju kedepan untuk berkumpul dan selanjutnya diantar oleh kakak senior yang bernama Jody Arya. Dan setelah sampai di kelas saya mencari tempat duduk deretan ke dua di bagian selatan saya duduk bersama sahabat saya dari smp yang bernama Indra Suputra dia orangnya sangat baik, sangat ramah, suka menolong, dan dia suka lelucon.
Keesokan harinya saya kembali ke sekolah dengan mengendarai motor kesayangan saya yang berwana hijau buatan Kawasaki saya memarkirnya di belakang sekolah di sebuah kos-kossan yang sering disebut dengan parkir 1000. Saya mulai berjalan menuju sekolah dan di tengah jalan saya bertemu dengan sahabat saya yaitu Indra Suputra, saya bersama dengan indra menuju kelas saya yang berada di belakang yang tepatnya di samping padmasana (pura). Bel pun telah berbunyi yang menunjukkan waktu pelajaran telah dimulai, setelah beberapa menit guru pengajar pun telah datang yang bernama Drs Putu Sumandi Yasa.
Ditengah-tengah pelajaran sahabat saya berkata “ta di depan ada cewek cantik yang namanya Gita Wahyuni”
Dan saya pun menjawabnya dengan bingung “apa cewek? Di depan mana ndra?”
Dan saya melihatnya begitu cantik, manis, dan juga pintar bagaikan bidadari yang dikirimkan untuk saya.
Saat jam istirahat berbunyi saya dan sahabat saya pergi ke kantin untuk makan dan saya pun bertemu dengan Gita, dan tiba-tiba saya seperti dirasuki oleh cinta dan saya pun menyapanya dengan tersenyum
“hay ta” sambil tersenyum
“hai juga Dita” sambil tersenyum kembali
Begitu juga Gita membalas sapa saya. Dan bel masuk kelas pun berbunyi, saya dengan Indra kembali ke kelas dan guru pun telah datang. Pelajaran telah dimualai sekarang saatnya pelajaran Bahasa Inggris yang diajari oleh Miss Eti, disaat tengah pelajaran kami pun disuruh membentuk kelompok percakapan. Saat kelompok saya maju, saya pun disemangati oleh Gita yang duduk tepat di hadapan saya dan saya pun mulai baper.
Beberapa bulan kemudian. Saya sudah sangat dekat dengan Gita saat ada pasar malam dalam rangka 17 agustus, saya pergi dengan Gita yang saat itu Gita masih berpacaran dengan Tommy Pasasantika yang sudah dijalaninya 1 tahun 3 bulannya dijalan ke 1 tahun 4 bulannya mereka sudah mulai renggang dan saya pun mengambil kesempatan yang manis itu. Setelah mereka putus saya memrikan perhatian lebih yang saya saat lakukan dengan mengajak Gita dinner dan menjemputnya untuk bersamaan berangkat ke sekolah.
Setelah 1 minggu berlalu saya mengungkapkan perasaan saya dengan Gita, saya pun menembaknya untuk menjadi pacar saya dan tanpa berfikir panjang Gita pun mengiyakan permintaan saya. Dan setelah hari itu saya duduk dengan Gita, dan Indra pun duduk dengan teman duduknya Gita dulu.
Dan setelah itu hubungan saya dengan Gita tidak disukai dengan temen-temen sekelas kami karena banyak yang menyukai Gita
Pada ulang tahun sekolah kami, dan lomba pun banyak dimulai dari lomba gerak jalan antar kelas, lomba paduan suara, makan kerupuk, dan lainnya sampai puncak acara dilakukan di gedung Imaco pelabuhan buleleng.
Dan setelah 2 minggu hubungan kami pun selesai tanpa sebab yang jelas. Saya hanya bisa terdiam karena saya tidak mau menambah masalah kami, saat itu saya kembali meminta duduk dengan sahabat saya Indra dan saya meminta maaf dulu saya sampai memindahkan kamu duduk bersama Mei. Dan setelah 4 bulan berlalu kami tidak ngomong sama sekali yang dulunya saling sapa sekarang saling diem.
Setelah 6 bulan berlalu saya mendengarkan gossip kalo Gita sedang dekat dengan seorang kakak kelas yang bernama Arya dan saya cari tahu ternyata benar terjadi. dan merek saling dekat, dekat, seperti saya dulu
1 tahun pun berlalu saya sekarang berinjak ke kelas XI, dan ternyata kami 1 kelas kembali bersama tanpa ada rolling kelas seperti anak MIPA. Disamping 1 tahun ini kami tetap tidak berbicara seperti tidak kenal.
Disaat itu saya mulai mengerti.

bad anniversarry

Malam ini hujan tak henti-hentinya membasahi atap rumahku. aku yang termenung menatap hujan di balik jendela kamarku dan tak sadar bulir-bulir air mata jatuh di pipiku.
Drrrtt drrrrtttt… Well I wonder could it be, when I was dreaming about you baby you were dreaming of me… lagu M2M yang berjudul the day you went away serasa menyadarkanku dan membuyarkan semua lamunanku. aku menatap layar di hp ku, melihat 1 panggilan disana. Rizky, yah Rizky dia adalah salah satu sahabatku, aku mempunyai 5 orang sahabat di masa putih abu-abuku ini.
“Hallo” kataku menjawab telepon
“Hai kamu lagi apa? aku nelepon mau tanya soal PR matematika. kamu udah ngerjain belum?” tanyanya dengan suara agak cempreng.
“Oh itu… udah aku udah ngerjain. kenapa?” tanyaku.
“Gak papa sih tanya aja. sebagai bentuk perhatian aku ke kamu.” jawabnya sambil tertawa. eh tapi jangan salah paham dulu, Rizky itu cewek loh.
“Oh..” balasku singkat.
“Kamu kok suaranya beda. kayak habis nangis. kamu beneran habis nangis yah. kenapa sih? masalah cowok itu lagi”
“Enggak kok, apaan sih” ucapku.
“Beneran? gak bohong? awas aja kalo kamu bohong apalagi nangis gara-gara cowok gak penting kayak dia.” celoteh sahabatku.
“Ya iyalah aku gak bohong.”
“Ya udah deh aku mau ngerjain tugas dulu biar kelihatan rajin dikit gitu.” katanya lalu menutup telepon.
Keesokan harinya.
“Linda…” teriak seorang gadis dari sebrang jalan raya depan sekolah.
Linda itulah namaku, aku siswi kelas 2 SMA. dan gadis yang menyapaku bernama azizah.
“Iya” balasku sambil berteriak juga. Dia lalu berjalan menghampiriku
“Tumben berangkat sendirian?” dia bertanya kepadaku.
“Iya” aku hanya membalas singkat dengan sedikit tersenyum.
Aku menjadi sedikit pendiam dan malas melakukan sesuatu semenjak aku ditinggal kan oleh orang yang kusayang. tapi saat aku sedih sahabat-sahabatkulah yang mengerti dan menghiburku.
Di kelas.
“Hai..” sapa sahabatku yang lain.
Inilah 5 orang sahabatku diantaranya Rizky, Azizah, Sukma, Ratna dan Rohmah. Kita sudah bersahabat dari kelas 1. sudah setahun kita bersahabat. melewati masa-masa indah bersama, masa-masa sulit bersama, bahkan masa-masa nakal bersama. terkadang beda pandangan dan beda pendapat memecah persahabatan kita. namun tuhan selalu punya rencana untuk menyatukan kita kembali. Thanks god…
“Lin kenapa sih dari tadi murung terus, ada masalah cerita dong sama kita” ucap sukma
“Iya barang kali kita bisa bantu” sahut rohmah.
“Gak papa kok…” Jawabku meyakinkan.
“Pasti karena nazril kan…” Rizky menebak-nebak.
“Gak kok”
“Ya udahlah lin ngapain sih mikirin cowok yang jelas-jelas nyakitin kamu, gak penting tau” kata Ratna menasehati
“Iya kayak gak ada cowok lain aja” ucap azizah.
Tiba-tiba terlintas kembali kejadian beberapa hari lalu yang menurutku cukup membuatku sakit.
Flashback.
Kulihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 19.30. cukup lama aku berada di taman ini. aku sudah membuat janji dengan nazril. dia adalah pacarku. siswa kelas 2 SMA tapi beda sekolah denganku. aku telah menjalin hubungan dengannya selama 1 tahun. aku sangat menyayanginya dan setahuku dia juga menyayangiku. meski kita jarang bertemu karena terhalang jarak, tapi aku sangat percaya padanya. Susah senang kulewati bersamanya. rasanya aku tak mau kehilangan dia.
Aku sudah menunggunya selama 30 menit, aku sengaja membuat janji dengannya karena aku ingin merayakan hari anniversaryku 1 tahun dengannya. aku melihat dia berjalan menghampiriku.
“Hai yang.. udah lama disini?” tanyanya kepadaku
“Lumayan.. kamu kok telat sih.”
“Ya tadi ketiduran, tapi kamu gak marah kan…”
“Gak kok..”
“Oh iya kebetulan kamu ngajak aku kesini, aku mau ngomong sesuatu yang penting…”
“Aku juga mau ngomong sama kamu, tapi kamu duluan aja deh…”
“Gak papa nih aku duluan?” ucapnya
“Gak papa, udah buruan ngomong apa aku udah penasaran nih…”
“Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu, awalnya aku gak bermaksud buat kayak gini sama kamu, tapi..” nazril memotong ucapannya.
“Tapi apa?” tanyaku menyelidiki
“Tapi aku sayang sama kamu sayang banget”
“Iya aku tahu… itu yang penting”
“Sebenarnya aku mau ngomong kalau aku udah nyakitin kamu, aku udah buat kamu kecewa. selama 3 bulan terakhir aku menjalin hubungan dengan cewek lain, namanya dewi dia satu kelas denganku. aku sekarang tahu bahwa kebersamaan berujung kasih sayang dan aku merasakannya lin… aku menjalin hubungan yang indah bersamanya seperti denganmu. aku baru berani mengatakannya sekarang karena aku takut melukai perasaan seseorang yang kusayang, tapi aku tahu semakin kusembunyikan akan membuat aku sakit. aku mengumpulkan semua keberanianku untuk mengatakan ini semua ke kamu. aku sadar aku salah dan aku minta maaf karena aku sayang kamu dan dia..” jelasnya ke aku
Ucapan nazril seperti petir yang menyambar hatiku, tubuhku gemetar dan melemas.
Air mata pun tak henti-hentinya membasahi pipiku. aku terdiam, aku tak tahu harus mengatakan apa padanya, bibirku pun serasa kaku untuk berkata. apa yang harus kulakukan. apa aku harus marah dan menghapus air mataku sendiri. Nazril membiarkan aku terdiam dan menangis mungkin dia tahu betapa terlukanya aku.
“Lin maafin aku yah… aku tahu ini sakit, tapi aku harus mengatakannya. aku akan terima semua keputusanmu…” katanya sambil memegang tanganku. aku melihat penyesalan yang mendalam di matanya.
Aku tak menjawab apapun. aku hanya bisa diam dan menangis. nazril mengusap air mataku dengan tangannya lalu dia bertanya.
“Kamu tadi mau ngomong apa?”
Aku akhirnya memberanikan diri mengatakan apa yang ingin kukatakan saat ini.
“Happy anniversary sayang. aku sayang banget sama kamu. aku mau putus.” tangisanku memecah saat aku selesai mengatakannya. aku langsung meninggal kan dia dibangku taman sendirian. aku sudah tak kuat menatap mata yang dulunya terpancar sayang yang besar untukku, yang kini telah membagi cintanya untuk orang lain. Kuatkan aku ya tuhan…
Flashback end.

senyum terakhir

Malas adalah kebiasaan burukku, Orang-orang memanggilku dengan sebutan Ade dan sahabat baikku adalah Bagas, banyak yang mengatakan bahwa kami seperti saudara kembar.
Sahabatku adalah Anak yang cukup rajin dan cukup pandai, tapi perbedaan ini tak menjadi jurang pemisah persahabatan kami.
Di antara kami tidak pernah ada yang Memiliki keniatan untuk Saling Menjatuhkan dan ingin Menjadi lebih dominan di antara teman teman yang lain, justru kami saling menguatkan dan saling membantu jika di antara kami ada yang sedang mengalami kesulitan dalam hal apapun.
Dalam kelas justru akulah yang selalu mengalami banyak kesulitan dalam Mengerjakan pelajaran bahasa inggris, karena aku lebih banyak bercanda dan tak pernah memperhatikan apa yang guruku ajarkan.
Akan tetapi Bagas tak pernah Menyerah dan selalu memberikan semangat dan motivasi untukku dan juga Mengajarkan banyak Hal yang begitu berarti dalam Hidupku.
Hingga suatu ketika di dalam kelas siang itu aku sedang mengalami banyak kesulitan saat aku ditunjuk untuk maju dan mengerjakan Bahasa inggris di depan teman sekelasku, Aku sangat malu dan tidak dapat Mengerjakan satu nomor pun di papan tulis, dan disitulah Mulai datang Rasa penyesalan yang menghampiriku, dalam hatiku berkata “seharusnya Aku selalu Mendengarkan dan memperhatikan saat guruku sedang mengajar di kelas, pasti aku tidak akan mendapatkan kesulitan seperti ini”.
Fikirku tidak akan ada seorang pun yang dengan hati yang tulus untuk membantuku, Hanya suara gelak tawa yang kudengar dari mulut teman satu kelasku.
Tapi tidak untuk bagas Rupanya sahabatku Diam-diam Menuliskan sebuah jawaban di kertas kecil dan melemparkannya kepadaku.
Dalam batinku “Bagas adalah sosok malaikat yang Tuhan kirimkan dalam bentuk Manusia untukku”, dan dari sinilah aku percaya bahwa persahabatan tidak akan melihat kekuranganmu atau kemampuan apa yang dimiliki, dan Bagas juga pernah berpesan padaku sebelum ia pindah ke sragen bahwa “Jika kita Menanam kebaikan maka akan tumbuh kebaikan pula”, dan Sejak saat itu aku telah menganggap bagas lebih dari sahabat bahkan seperti saudara sendiri, Dan semua Kebaikannya akan selalu kukenang.

luwak patah hati

Sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang remaja yang menjadi Luwak karena patah hati, haha jangan diangggap serius luwaknya itu hanya filosofi saja, katakan nama gue Rey, gue adalah seorang remaja yang humoris baik ramah tapi gue selalu kalah akan hal cinta, singkat cerita tentang gue.
Dan pada suatu ketika di suatu tempat bisa dikatakan taman di sore hari dengan suasana yang sangat romantis tetapi sunyi karena gue merasa ada yang mengganjal di hati gue, dan entah kenapa tiba-tiba jeni menatap gue dan dengan mata berkaca-kaca dan ia berkata “Mulai detik ini kita putus..” ujarnya kepada gue, entah hal apa yang membuat jeni ingin putus sama gue tapi okelah lupain aja hal itu.
Oke kali ini kita akan membahas hal yang paling menjijikan bagi gue, yaitu CINTA! halah apalah itu cinta, tapi Cinta itu terbagi menjadi dua hal, yang pertama Jatuh cinta dan yang kedua putus cinta atau galau, Pada suatu ketika gue sedang kumpul bersama teman-teman gue yang gokil di kamar gue, disitu ada gue tentunya dan 3 teman gue yaitu, Nabas, Aep dan Septian saat itu gue sedang mendengarkan musik menggunakan earphone lalu gue pun bernyanyi “malam malam aku sendiri tanpa cintamu lagi” dan Aep pun menghampiri gue dan mengejek gue “hadeeeh dasar jomblo” ledeknya sambil tertawa kecil, dan gue pun langsung menjawabnya “gue tuh bukan jomblo gue single” Aep pun merasa heran dan bertanya kepada gue “emang bedanya jomblo sama single itu apa” Tanyanya kepada gue, dan gue pun menjawab sepengetahuan gue padahal gue gak tau perbedaan jomblo sama single itu apa, dan gue menjawab dengan gugup “yaa beda lah, kalo jomblo yaaa single kalo single yaa aa mm jom blo” suasana sejenak hening lalu gua menjelaskan kembali dengan tegas tetapi sedikit gugup “yaa mmm yaa pokonya beda lah” disaat gue sedang berbincang-bincang dengan Aep terengar suara septian yang sedang asik online facebook “jirr, Beranda facebook gue updetan mantan gue semua, hadehhh patamon gue” ujarnya gue pun mersepon perkataanya tersebut dan menanyakan apa itu arti patamon, septian menjawab dengan ekspresi konyol “patamon, patah hati gagal move on” ujarnya, dan Nabas pun menghampiri sanbil membawa kopi dan ia berkata sok bijak “ya udah lah, nikmatin aja sih masa-masa kesendirian lo, yang pacaran aja belum tentu bahagia kan?” setelah Nabas berkata seperti itu ia pun menyeruput kopi yang ia bawa tadi “srrfffutttt” lau ia pun tersendak sehingga gue menolongnya dengan menggebuk-gebuk punggungnya sambil berkata “kaluar maneh, maneh hayang naon hah!!!” soalnya gue kira dia kesurupan setan jomblo, lalu Aep pun berkata sambil tertwa kecil “ehh dia tuh keselek bukan kesurupan,” ujarnya lalu gue menjawab sambil tertawa “ohh gua kira dia kesurupan setan jomblo” suasana menjadi ramai dengan candaan dan tawa
Pada suatu hari tepatnya saat gue dan Nabas sedang berjalan di lorong sekolah tiba-tiba gue dan Aep meliahat seperti ada yang berantem hebat, dan kampretnya itu yang berantem itu adalah sepasang kekasih entah hal apa yang membuat mereka berantem dan saat itu gue melihat si cowoknya itu ditampar oleh pacarnya, lalu gue pun spontan memegan pipi gue sambil berkata “aduh rontok tuh gigi” gue sama Nabas pun melanjutkan perjalanan gue sampai suatu ketika tiba-tiba Nabas bertanya kepada gue “rey kalo kita lagi dalam posisi kaya tadi tuh diputusin cewek, supaya harga diri kita gak jatuh di hadapan cewek kita gimana?” gua pun menjawab sambil tertawa “haha.. lu bertanya kepada orang yang tepat Bas jadi begini” gue pun menceritakan pengalaman gue” disaat putus sama jeni mantan gue yang kampret itu jadi disaat jeni bilang “mulai detik ini kita putus” gue menjawab dengan gantle Bas santai seakan-akan lo terima dengan lapang dada keputusan dia lalu gue menjawab dengan nada cowok cool “haha putus? Oke lah kalo itu mau kamu, tapi asal kamu inget, cewek di dunia ini bukan Cuma kamu!!! masih banyak yang mau sama aku!” nahh disaat itu gue langsung pergi Bas jalan ninggalin dia, dan entah kenapa disaat gue balik badan jalan ninggalin dia air mata gue tiba-tiba jatuh dan dalam hati gua berkata “padahal gue sayang banget sama lo jen” ” lalu Nabas pun merasa heran sambil natap wajah gue lalu gue pun mengalihkan pembicaran “ee mm mm lupain lupain” dengan nada gugup gue berkata.
Ketika suatu sore gue seperti biasa nongkrong di sebuah taman dekat komplek rumah gue, pada saat itu gue asik membaca novel dan tiba-tiba dari arah samping gue ada sesosok misteriuss *jeng jeng jeng jeng* hehe bohong gue bercanda.. Di samping gue tiba-tiba ada seorang perempuan cantik berambut sebahu menggunakan kaos merah dan sweater yang ia taruhkan di tangannya, ia menghampiri gue dan tiba tiba ia menyapa gue dengan wajah yang ceria “haaaiiii..” sapanya kepada gue, gue pun menjawab dengan cuek “hmmmm”. “boleh gue duduk disini?” Tanyanya “ya udah duduk tinggal duduk” jawab cuek gue, lalu ia pun duduk di samping gue dan menaruh sweaternya di sampingnya, ia duduk lalu ia pun melambaikan tangan kepada gue dan memperkenalkan dirinya “oh iya kenalin Nama gue Keika” “hmm ya gue rey” jawab cuek gue, lalu ia pun berkata “kenapa sih kok kelihatannya lo cuek jutek gitu? Kenapa? Gak suka ya kalo gue duduk disini?” lagi-lagi gue menjawab dengan cuek “suka kok” “terus kenapa kok cuek gitu” Tanyanya, “gue takut jatuh cinta lagi karena gue gampang jatuh cinta tapi sulit buat move on” jawab gue dengan spontan. Keika pun terlihat kebingungan dan terdiam lalu keika pun bertanya kembali kepada gue “maksudnya?” gue pun gak nyangka bakal keluar kata-kata itu dari mulut gue lalu gue pun mencoba menjelaskan kepada Keika dengan sedikit gugup “ee e engga maksudnya gini loh ee emm gua benci banget sama yang namanya cinta, disaat gua lagi bener-bener sayang eh gua malah ditinggalin.. padahal kan dulunya bilang sayang aku tuh sayang banget sama kamu,.. aku gak bakalan ninggalin kamu.. preeettt!!!” sambil berkata dengan suara kecil gue berkata “tuh kan jadi curhat gue, emang kampret mantan gue”.
Keika pun terlihat bingung dengan penjelasan gue tapi dia bisa mengambil kesimpulan dari penjelasan gue tadi sambil tersenyum kecil ia berkata “hmm jadi gitu.. oke lah lu boleh benci sama perpisahannya. Tapi lu gak boleh benci sama cintanya. Seperti seekor Luwak, ia aktif dan berkeliaran di malam hari, bukan berarti ia takut akan siang hari, tetapi ia lebih nyaman di kegelapan.. dan itulah cinta, harus bisa memilih, jika di kesendirian membuat lu lebih nyaman, untuk apa lu memaksakan berpasangan? cinta ada itu saatnya,” gue pun langsung termotivasi dari kata-katanya tadi padahal Keika seorang cewek yang baru gue kenal tetapi dia memberikan motivasi tentang apa itu arti cinta yang sesungguhnya.
save luwak patah hati